Posted by: iyulianti on: 2011/03/22
Bapak B.J. Habibie adalah seorang ilmuwan di bidang rekayasa pesawat terbang yang disegani di dunia. Pemikirannya bukan sekedar tentang ambisinya menjadi ilmuwan tetapi segala pemikiran tentang membawa rakyat ini menjadi maju dan dihormati bangsa lain. Salah satu faktor kesuksesannya, adalah memiliki istri yang luarbiasa.
Di balik kesuksesan orang-orang besar, selalu ada peranan seorang wanita yang beriman dan berilmu.
Ibu Ainun adalah salah satu diantaranya, Insya Allah beliau adalah termasuk golongan wanita beriman. Lahir dalam keluarga yang berpendidikan tinggi dan islami, wajib rasanya bagi seorang Ainun menjadi wanita yang berpendidikan tinggi pula. Beliau adalah alumnus Fakultas Kedokteran UI dan menjadi dokter spesialis anak yang kompeten. Sejak belia, sudah dikenal sebagai anak yang cemerlang dan berprestasi. Tetapi hal yang lebih luar biasa adalah kerelaan Ibu Ainun untuk melepaskan segala ambisinya meneruskan karir sebagai dokter dan memilih untuk mendedikasikan hidupnya menjadi istri dan seorang ibu. Keikhlasan beliau untuk mendukung karir suami, menjadi jenderal dalam urusan rumah tangga, dan tanpa lelah untuk membesarkan anak-anaknya menjadi insan yang cemerlang, patut diteladani. Ibu Ainun begitu menyadari posisi dan peranannya sebagai seorang istri dari laki-laki yang memiliki cita-cita besar untuk Indonesia. Tak pernah menampakkan wajah gundah dan lelah ketika menyambut sang suami pulang di larut malam, tak pernah mengeluh karena sedikitnya waktu untuk bersama sang suami, tak pernah terucap kata-kata untuk mencampuri urusan pekerjaan suaminya. Ia memberikan pendapatnya ketika ditanya, ia sampaikan kesulitannya dengan proporsional, ia jalani peranannya sebagai istri dan pengatur rumah tangga tanpa keluhan. Senyuman dan semangat yang ia berikan menguatkan kepercayaan diri sang suami dalam menghadapi permasalahan dan tantangan kerja. Ibu Ainun bukan sekedar wanita pandai tapi ia adalah wanita yang religius, setiap uraian kata-katanya dalam menyemangati sang suami mencerminkan keyakinannya yang kuat terhadap kuasa Allah.
Ibu Ainun adalah salah satu wanita dibalik kesuksesan Bapak B.J. Habibie selain ibu kandung beliau yang juga luar biasa. Bahkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang pekerjaannya terlihat mudah dan hanya berputar di rumah saja, membutuhkan latar belakang pendidikan selevel dokter atau sarjana. Akan tetapi hanya dengan bermodal gelar dokter ataupun gelar sarjana pun tidak cukup untuk mengemban amanah sebagai ibu rumah tangga. Diperlukan keimanan dan kedekatan kepada Allah untuk mampu ikhlas menjadi seorang istri yang rela berhenti berkarir dan fokus untuk mendidik anak dan mendukung suami. Hanya bermodal keimananpun tak cukup untuk membesarkan anak menjadi insan cendekia dan beriman. Karena seorang ibu dengan latar belakang pendidikan yang tinggi akan mampu mengarahkan anaknya mengembangkan cita-cita lebih tinggi sekaligus menanamkan semangat untuk menjadi insan yang bermanfaat dan bertanggung jawab terhadap agama dan negara.
Seorang wanitapun wajib untuk meraih pendidikan tinggi, bahkan setinggi-tingginya. Tapi hal itu bukan untuk mengingkari kodratnya sebagai seorang istri ataupun ibu, tapi sebagai bekal baginya untuk membangun keluarga dan membesarkan anak-anaknya menjadi insan yang mulia.
Salah rasanya jika ada pemikiran bahwa wanita tak perlu mengenyam pendidikan tinggi hingga S2 atau S3 karena kodratnya sebagai istri atau ibu. Salah rasanya jika ada pemikiran bahwa wanita tak perlu bekerja, karena bekerja akan membuat seorang wanita lebih berkembang dari segi pemikiran dan keilmuwan. Tetapi akan menjadi kesalahan besar jika wanita menolak untuk berhenti bekerja dan beralih menjadi ibu rumah tangga disaat ia memang harus tinggal di rumah mengurus anak-anaknya. Dan kesalahan terbesar lainnya adalah membiarkan wanita tidak mengenal Allah. Karena dengan mengenal Allah dan Islam sebagai agamanya, seorang wanita akan memahami tanggung jawab besarnya membangun keluarga sakinah dan tanggung jawabnya menciptakan generasi yang lebih baik.
Posted by: iyulianti on: 2011/01/20
Ga pernah dalam sejarah, si Indri mampu dan berminat utk melihat kalender sekaligus mengidentifikasi kapan tanggal merah berada dan ada apa dgn kalender saat si kalender dibagikan di kantor. Dan bukan kebiasaan si Omeng (a.k.a Indri) utk mengingat dgn benar dan seksama pemberitahuan ttg tanggal libur atau hari-hari besar yg diumumkan melalui email. Menurutku mengingat-ingat hal semacam itu cuma ngabisin memory di otak yg sempit ini. Jadi cukuplah bertanya dgn rekan-rekan saya yg lebih peduli thd tanggal merah dan perkalenderan, plus mengandalkan feeling utk memastikan tanggal merah atau bukan.
Suatu hari saat masih di Jepang menjalani training, tepatnya di awal tahun 2010. Jadi klo di Jepang itu, ada libur akhir tahun hampir seminggu lamanya, karena tahun baru itu memang hari besar untuk mereka (bukan perayaan tahun baru tgl 1 Januari yaaa).
Tanggal 4 Januari 2010 yg indah dan cerah,,berikut dinginnya udara musim dingin
5.30 as usual bangun,,solat, makan, mandi,,
7.30 siap2,,masuk2in brg k tas ransel
7.45 kluar apato,,menuju kantor `tercinta`
segala persiapan hari ini terasa lebih santai, ga terbirit-birit seperti hari-hari yg sudah- sudah, senangnya kimochiiiii
7.55 di depan gerbang taikukan, pip-pip ID card tp ga berhasil,,,ada apakah gerangan??(your card is unrecognized)
kok aneh ada apakah dgn si kartu ini, rusak apa ya..dibolak-balik tu kartu memastikan tdk ada yg cacat. Melihat sekeliling koq belum rame,,ga keliatan ada karyawan lokal yg hilir mudik lewat gerbang itu.
7.59 : ya sudahlah, beranjak ke main gate, mungkin disitu bisa, skalian tanya ke security klo ga bisa juga, 500 meter
berjalan ke main gate…ga ada firasat aneh. Tapi sempat berpikir utk menelpon salah seorang teman (untunglah ga jd nelpon,,,ffiuhh)
8.04 : sampai di main gate, lalu pip-pip ID Card lalu berhasil-berhasil,,horreeee ( alhamdulillah ga perlu nanya security:D)
8.05 : jalan menuju pintu masuk gedung,,
8.05`.30″: kok terdengar suara orang berlari mengejar???
heh,,si satpam ngejar-ngejar ternyata,,mau minta foto bareng apa ya?
“お仕事ですか”, katanya (read: masuk kerja kah??)
aq jwb, “うん仕事です”..(read: iya saya kerja).
APa si satpam ini ga percaya kalo saya karyawan sini yaa…maklum kelihatan bgt tampang orang asingnya..hahahah
Satpam : sudah izin untuk kerja hari ini…?
hah,,,ngapain harus bikin izin untuk kerja,,,pelanga-pelongo mencerna arah pembicaraan si satpam
Satpam : 今日はお休みです (hari ini hari libur)
si aq,,heh yg bener bang (dlm hati),??”$&%$%(& mustahil hari ini libur (ck..ck..ck..pede banget)
Indri :日本のお休みですか (hari libur nasional ya?)
Satpam :ううん会社のお休みです (ini libur perusahaan)
si aq,,ah yg bener niy,,trus liat kalendar kerja,,heh tanggal merah ternyata,,shockkk beratt
Indri :すみません間違いました
Satpam: senyum – senyum doank
langsung balik badan berharap bisa merubah wajah seketika,,,mw taro dmn niy mukaaaa,,,huaaaaaaaaa,,maluuuu
hmm,,,gak inget klo hr ini msh liburT-T
yg terbayang cuma satu,,kebayang klo temen2 tau si saya pergi ngantor di hari libur….luar biasaaaaaaa akhirnya balik ke apato secepat kilat,,berharap tdk bertemu dgn org yg dikenal di sepanjang jalan. Lalu mengendap-ngendap naik ke lantai 2 apato menuju kamar 204 (my room). Hahhhh,,,amaaan ga ada yang liat (trus ngapain,,,dipost di FB, blog, dan dicritaiin ke temen2,,???
Posted by: iyulianti on: 2011/01/19
Bukan Salah Golongan Darah???Apa betulll??
Awal 2011, sekitar 4 bulan setelah `pengadilan` hanseikai (berlebihan kek-nya,,itu lebih cocok disebut mengungkapkan kebodohan2 si saya dlm kasus programming). Stelah dengan `sukses `menghasilkan bug dgn cost rework 80rb model,,heuheuheu. Secara tak sengaja mendengar kabar lain tentang kasus yang sama, proyek yang sama, dan ditangani oleh pihak yang sama swaktu di Jepang (waktu si saya masih jd pupuk bawang). Halah..halah ternyata disana nemu bug lagi, sesaat setelah ngebaca email (yg sejatinya bukan memberi tahu si saya terjadi bug itu), kepala mulai terasa panas,,jantung berdebar cepat, sebuah wajah terbayang di alam bawah sadar (you know whom,,bapak leader terhormat). Berpikir lamaaa,,ini bug apakah kesalahan lanjutan dari desain si saya ya??menelusuri kembali proyek itu..ngubek-ngubek source code dan design spec yang ada. Bolak-balik tes di model terkait…
Hmmm,,keesokan harinya..
Positif….penyebabnya adalah kurang perencanaan di desainnya,,dan lagi-lagi itu buah pekerjaan si saya..Udahlah speechless ama tantou,,ga usah ngungkit-ngungkit proyek itu, pura-pura lupa aja.
How miserable…..
Bakalan di blacklist niy,,,,
Haduuuuuuuuh,,kok bisa ya ada yg terlewat untuk dipikirkan ketika mendesain proyek itu. Dan curiganya, masih banyak yang terlewat diproses desain itu,,,hwwa tutup mata ngumpet di balik selimut,,atau ganti nama aja biar ga dikenal ama orang-orang,,terus resign diem-diem…hihhhiihi
Walaupun tidak separah bug sebelumnya dan bukan pure kesalahan ane,,tetep aja,,
Maluuuuuu,,seribu malluuuuuuuu
Satu pernyataan dari si otak ,,sepertinya kita tidak dicocok berprofesi sebagai programmer,,,,too risky buat orang seceroboh saya.
Hahh,,,kutukan golongan darah O kah???
Kesalahan kecil kayak gini bisa mengakibatkan kerugian 1 juta dollar (hmm,,,sebrapa banyak itu ya??). Sudah 2 bug dari kerja keras saya selama training di Jepang, berapa bug lagi yang akan muncul dari proyek yg sama yang pernah saya kerjakan…??????hwaaaa kabur aja deh,,alasan utk resign dini semakin bertambah.
Bener-bener ga cocok pekerjaan kayak gini buat orang dgn kelemahan berpikir sistematis, berantakan, dan tidak mampu focus. Apakan ini kutukan golongan darah O??
Dan kenapa,,saya berada di team yang pekerjaanya adalah mengontrol ratusan parameter, dan ribuan line code (yg tdk lebih dari 50% pernah dibaca)?????
Huuhuhuhuhu,,,,pengen ngegaruk muka rasanya…T-T
Jadi bisakah gaji saya dinaikkan, Pak Manager?”#$#%$!
Posted by: iyulianti on: 2011/01/02
-dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-
Allah itu dekat dan senantiasa dekat,
Hijrahku semata-mata untuk meraih keridhoan-Mu, untuk mendapatkan yang lebih baik dari apa-apa yang aku tinggalkan. Allah sungguh teramat dekat, ketika azzam berhijrah itu ada di hati manusia. Demi Allah, sungguh aku pernah mengalaminya.
Azzam hijrah itu muncul ketika jiwa manusia sedang berada dalam keterpurukan, terjebak dalam kesedihan atas ketidakberdayaan, terjebak dalam keputusasaan atas segala usaha yang tak kunjung membuahkan hasil, dan atas pengakuan dosa yang selama ini pura-pura dilupakan untuk meringankan beban pikiran.
Maka hanya kepada Allahlah sang jiwa kembali dengan terseok-seok memanggil sang Khalik, sang Maha Cinta yang tak pernah menyia-nyiakan cinta hamba-Nya, yang tak pernah memandang manusia atas dasar materi yang melekat di raga. Sang jiwa memanggil dengan suara sendu yang penuh kelelahan, dengan dada sesak penuh tangis dan keputusasaan, bahkan ragapun tak mampu menanggung kesedihan sang jiwa.
Memanggil Allah untuk menyelamatkannya dari kesedihan, meminta Allah mendatangkan kebahagian dengan memohon mengabulkan apa yang sang jiwa harapkan atas harta, cinta, ataupun jabatan. Lama, hati sang jiwa tak kunjung kering dari uraian air mata, ia layu bagaikan tak pernah mencicipi nikmatnya air hujan, ia begitu merasa terasing sehingga hanya Allahlah temannya bercerita, hanya waktu bersama Allah di tiap sujudnya dan di akhir sholatnya yang ia rindukan. Berulang-ulang sang jiwa memohonkan Allah mengabulkan permohonannya atas harta, cinta, ataupun jabatan yang amat sangat diinginkannya. Sungguh sang jiwa tak mengerti jikalau apa-apa yang diingininya tersebut mungkin akan mendatangkan keburukan baginya.
Allah membiarkan sang jiwa tenggelam dalam sedihnya, bukan karena Allah ingkar pada janjiNya untuk mengabulkan doa hamba-Nya.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Al-Baqarah 2:186)
Karena dengan sedihnya, sang jiwa mampu mengingat Allah disetiap nafasnya, sang jiwa akan terus memanggil nama Allah ditiap kesedihan itu tak tertahankan, sang jiwa akan berusaha untuk mencari cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan Allah senang melihat perilaku hamba-Nya itu, mungkin Ia sedang tersenyum melihat hamba-Nya menangis sesengukan dalam tiap doa-nya, ia senang melihat hamba-Nya kelaparan, menahan nafsu, menjalankan ibadah sunnah berpuasa hanya mengharapkan Allah menghembuskan ketenangan pada relung hati sang jiwa. Allah membiarkannya sejenak, bukan memalingkan wajahNya dari kesedihan sang jiwa, Ia mengamati sang jiwa, Ia menghembuskan ketenangan ke dalam hati sang jiwa , diam-diam Ia meneguhkan keyakinan sang Jiwa bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakannya, bahwa Allah mendengar teriakan kesedihannya memohon pertolongan-Nya,
Fainna ma`al `usri yusraa, inna ma`al `usri yusraa
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Al Insyirah:5-6)
Tanpa sang jiwa sadari Allah telah mengajarkannya sedikit demi sedikit bahwa apa yang diinginkannya akan harta, cinta, ataupun jabatan bukanlah kebahagian sebenarnya yang dibutuhkan sang jiwa. Allah menjaga sang jiwa agar tak kecewa ketika Ia memutuskan untuk menggantikan apa-apa yang diingini sang jiwa dengan sesuatu yang lain, Allah menjaga sang jiwa dari terlampau bahagia ketika Ia mengabulkan permohonannya, Allah mencegah sang jiwa dari melupakan masa ini seusai Ia mengabulkan permohonannya, Ia mengarahkan sang jiwa untuk belajar dari masa ini,
Supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian, Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri (Al Hadid:23)
Ia tidak serta merta memberikan ikan yang jatuh dari langit ke seekor kucing yang kelaparan, itulah perumpamaannya. Ia akan memberikan pancing untuk sang jiwa, agar dengan pancing itu Ia mampu menangkap bukan sekedar ikan kecil yang membuatnya kenyang tapi seekor ikan seukuran ikan paus yang mampu membuatnya kenyang untuk berhari-hari kedepan. Karena itulah Allah menangguhkan permohonan sang jiwa, sehari, seminggu, sebulan, setahun, bahkan seumur hidup. Allah membiarkan sang jiwa berharap cemas akan doanya, membiarkan sang jiwa menanti dalam kesedihannya. Tapi itu bukan penyiksaan dari Allah, itu adalah cara Allah mengajarkan hikmah pada sang jiwa untuk belajar memaknai segala do`a sang jiwa, memaknai apa yang lebih baik dari yang apa-apa yang dinginkan oleh sang jiwa. Dan lambat laun, sang jiwa bangkit dari kesedihannya, dalam penantian akan doanya tentang keinginan sang jiwa atas harta, cinta, ataupun kekayaan, sang jiwa menyadari bahwa ada hal yang jauh lebih berharga dari apa yang ia mohonkan itu. Hal itu adalah ketenangan jiwa, hanya Allah yang mampu menyelimuti hati sang jiwa dengan ketenangan. Sang jiwapun sadar, bahwa ia telah begitu jauh dari jalan yang Allah inginkan atas hamba-hambaNya. Ia telah melampaui batas hingga terperosok ke dalam kesedihan dan keputusasaan. Sang jiwa pun yakin suatu hari kelak hal itu akan kembali terjadi kepadanya kecuali jika Allah senantiasa menyelimuti ketenangan bagi sang jiwa. Saat itulah azzam hijrah muncul, ia muncul bukan secara tiba-tiba, ia muncul sebagai buah dari usaha, buah dari kedekatannya pada Allah, buah dari ketulusan untuk mencari ridho Allah, hal yang jauh lebih baik dari harta, cinta ataupun jabatan.
Azzam itu adalah hijrah untuk kembali melangkahkan kaki menuju ridho Allah, mengubur dalam-dalam rasa cintanya, menutup hatinya dari sentuhan nafsu berbalut cinta. Sang jiwa ini bukanlah jiwa yang bersemayam di raga Fatimah putri Rasulullah, sang jiwa ini hanya jiwa yang jauh dari kata mulia dan takwa. Ia lemah terhadap cinta tapi ia mampu memutuskan untuk tidak diperdayai cinta dan lebih mengharap cinta sang Khalik. Berurai air mata, ketika ia berkali-kali berusaha menutup mata, telinga dan hatinya dari hasrat bernama cinta, hanya ketaatan yang ingin ia tunjukan pada sang Khalik. Beserta bulir-bulir air matanya ia memohon agar kesempitan ini berakhir dengan keistiqomahan atas azzamnya.
Hijrah adalah pengorbanan, dan itulah pengorbanan sang jiwa ini.
semoga Allah mengampuni sang jiwa .
Posted by: iyulianti on: 2010/11/16
Pernah suatu kali ngobrol2 tentang memanage kerjaan supaya sesuai dgn schedule development dgn si bapak genius yg sedikit `aneh`, a.k.a tutor. Dia malah bercerita pengalaman pribadinya dimarahi pejabat perusahaan akibat keteledoran yg berbuah kerugian sekian juta dollar (dollar??i`m not sure about that) pada produksi.
Tutor: di pabrik sono, sapa orang yg paling berkuasa??
Saya: Hmmm,,,sapa ya,,(sambil mikir niy arah pembicaraannya kemana yee???maklumlah basa jepunnya trlalu canggih utk dicerna otak pentium 2 yg bersemayam di kepala saya), manager saya si A, si B, sekaligus GM warga negara Jepang. Dan si presiden perusahaan tentunyaaaa
Tutor: Udah pernah belum dimarahin pejabat2 itu?
Saya: Ya,,belum pernahlah (secara msh pegawai baru 3bln yg langsung dilempar ke Jepang bwt training,,jangan sampe deh berurusan ama GM T-T)
Tutor: Saya pernah lho(sambil ketawa-ketawa tanpa dosa), dimarahin PM dan jajaran GM pokonya orang berkuasa perusahaan. Iya dimarahin di depan mereka semua, gara-gara keteledoran yg berakibat kerugian jutaan dollar. Saya siy, iya,,iya aja dimarahin, abis mau gimana lagi.
Saya: Hooooooo,,,,(luar biasa,,lucu jg niy orang, dimarahin tapi bisa nganggap pengalaman kek gini sbg penghilang stres)
Tutor: Nah, makanya….tanggung jawab kerja kamu itu harus bener2 dipahami, jgn sampe hasil kerja kamu ada yg salah dan ketawan di pihak PM,,,berabe deh jadinya.
Saya: Hoooo,,jd itu pentingnya melakukan evaluasi,,Ok,,ok saya ngerti
Tutor: Tapi pengalaman dimarahin itu, menarik lho. Dimarahin oleh jajaran orang `terkenal` perusahaan. Kapan2 kamu harus coba pengalaman kek gitu, dimarahin jajaran orang `terkenal` perusahaan.
Saya: Hehehehhe(ketawa aja deh, ogah deh bikin masalah kek gitu)
Sampe sekarang masih inget dengan cerita itu,,,ternyata n ternyata ngalamin juga pengalaman kayak gini. Untungnya dah balik ke Indonesia,,alhamdulillah ga perlu menerima introgasi penuh ketegangan ataupun pengadilan kalangan leader/manager sono. Tanpa sengaja saya telah mengakibatkan munculnya bug di desain yg dibuat sewaktu jd trainee dulu. Hmmm,,,ruarr biasaaa
AKhirnya dgn gagah berani, saya mengirimkan permohonan maaf ke Leader virtual di Jepang.,,,,ffuuuhhh.
Sekali lagi saya membuat sang Leader kepayahan,,,80 man no onna,,80rb buah printer harus dirework
Posted by: iyulianti on: 2010/09/13
Ini kali pertama qta ( geng hirooka ) jalan-jalan bareng selepas pulang ke `pabrik` kami tercinta di Indonesia. Sebagai debut pertama kita mengunjungi daerah ciwidey, bandung sekalian mengunjungi shinohara sensei `n sasaki sensei yg sedang bermukim di Bandung. Ffiuhh, jalan-jalan kali ini lumayan ngeruk dompet, hahalahhh.
:: Ongkos Jakarta-Ciwidey ::
- Jakarta(dewi sartika)-BTC Bandung —Cipaganti Travel [70.000]
- Bandung – Ciwidey—–Rental Mobil Inova beuhh,,gayya [600.000/hari, sudah termasuk bensin]
berhubung qta nge`bawa` sensei yg notabene org jepun jd kan kasian klo naek angkot panas-panasan,,
:: Ongkos Berteduh ::
Yah, berhubung pesen hotelnya H-1, alhasil hotel2 murah udah penuh dan alhamdulillah bisa booking niy hotel.
Hotel Setiabudhi Indah [366.000/hari, deluxe room, belum termasuk pajak]
:: Jalan-Jalan ::
sekian laporan jalan-jalan ^-^
Posted by: iyulianti on: 2010/05/22
An extraordinary movie from India`s moviemaker. Another great India`s movie I`ve ever seen after slumdog`s millionare. Not really a good story because some parts looks silly,but overrall it was awesome. Main character in this movie is Rizvan Khan who is living with Asperger`s syndrome. As an asperger`s Rizvan is very smart but cannot understand what people say for real. I`ve seen another movie with asperger`s syndrome as main character, called Adam.
When they say come to my house anytime, then I come to their house but they say why you came at this time?
Rizvan who is a moslem and live as devoted moslem moved to America. He meets his love, Mandira a lovely Hind women. Right after 911WTC occurence, his life and love facing peak problem. As a moslem living in America at that time, he received racial offends regarding 911WTC and turned his life into depression. Trying hard to stop people continuing those attitudes, he decided to speak out his identity to the President, hoping people will stop hating their people
My name is Khan, and I`m not a terrorist
Khan is a family name indicates identity as moslem India